KASUS I
Gangguan kecemasan berbicara di depan umum
I.Case Name : Pendekatan
Pre-condition : None
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Menanyai latar belakang
b. Menanyakan identitas
c. Menanyakan kondisi kesehatan
Post-condition : Menggali informasi subjek
Actor who benefit : Klien dan Terapis
II.Case Name : Menggali informasi subjek
Pre-condition : Pendekatan
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Menanyakan mengapa klien menemui terapis
b. Menanyakan mengapa klien mengalami kecemasan
c. Merekam informasi yang diberikan klien
d. Mengobservasi perilaku klien
Post-condition : Memilih terapi yang tepat
Actor who benefit : Klien dan Terapis
III.Case Name : Memilih terapi yang tepat
Pre-condition : Menggali informasi subjek
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Mendapat informasi dari klien
b. Memberikan terapi relaksasi
Post-condition : Pelaksanaan terapi
Actor who benefit : Klien dan Terapis
IV.Case Name : Pelaksanaan terapi
Pre-condition : Memilih terapi yang tepat
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Menyiapkan ruangan yang nyaman
b. Melakukan latihan seperti pengaturan nafas langkah demi langkah untuk mencapai relaksasi
Post-condition : Controlling
Actor who benefit : Klien dan Terapis
V.Case Name : Controlling
Pre-condition : Pelaksanaan terapi
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Melihat tahap kecemasan klien
b. Melihat kemampuan klien dalam mengatasi kecemasan
c. Jika klien menjadi tidak terkontrol terapis harus mampu mengatasinya
Post-condition : evaluasi
Actor who benefit : Klien dan Terapis
VI.Case Name : Evaluasi
Pre-condition : Controlling
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Melihat perubahan yang terjadi dengan melihat catatan diri klien
Post-condition : None
Actor who benefit : Klien dan Terapis
KASUS II
Phobia karet gelang
I.Case Name : Pendekatan
Pre-condition : None
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Melakukan rapport
b. Menanyakan identitas
c. Menanyakan keadaan fisik klien
Post-condition : Menggali informasi subjek
Actor who benefit : Klien dan Terapis
II.Case Name : Menggali informasi subjek
Pre-condition : Pendekatan
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Memulai penggalian masalah klien
b. Menanyakan mengapa klien phobia pada karet
c. Merekam informasi yang diberikan klien
d. Mengobservasi perilaku klien
Post-condition : Memilih terapi yang tepat
Actor who benefit : Klien dan Terapis
III.Case Name : Memilih terapi yang tepat
Pre-condition : Menggali informasi subjek
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Mendapat informasi dari klien
b. Memberikan terapi floading
Post-condition : Pelaksanaan terapi
Actor who benefit : Klien dan Terapis
IV.Case Name : Pelaksanaan terapi
Pre-condition : Memilih terapi yang tepat
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Menyiapkan ruangan yang nyaman
b. Meminta subjek duduk diruangan yang sama
c. Memberikan klien karet gelang secara berkala sampai ketakutannya berkurang terhadap karet gelang
Post-condition : Controlling
Actor who benefit : Klien dan Terapis
V.Case Name : Controlling
Pre-condition : Pelaksanaan terapi
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Melihat tahap kecemasan klien
b. Memberikan benda yang ditakuti klien
c. Menyingkirkan jika klien panik
d. Memberikannya lagi saat klien tenang hingga phobia klien berkurang
Post-condition : evaluasi
Actor who benefit : Klien dan Terapis
VI.Case Name : Evaluasi
Pre-condition : Controlling
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Melihat perubahan yang terjadi dengan melihat catatan diri klien
Post-condition : None
Actor who benefit : Klien dan Terapis
KASUS III
Stress dalam pembuatan tugas akhir
I.Case Name : Pendekatan
Pre-condition : None
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Melakukan rapport
b. Menanyakan identitas
c. Menanyakan kondisi kesehatan
Post-condition : Menggali informasi subjek
Actor who benefit : Klien dan Terapis
II.Case Name : Menggali informasi subjek
Pre-condition : Pendekatan
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Mengumpulkan informasi seputar klien dan masalahnya
b. Menanyakan pertanyaan terbuka mengapa klien mengalami stress saat pembuatan tugas akhir
c. Merekam informasi yang diberikan klien
d. Mengobservasi perilaku klien
Post-condition : Memilih terapi yang tepat
Actor who benefit : Klien dan Terapis
III.Case Name : Memilih terapi yang tepat
Pre-condition : Menggali informasi subjek
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Mendapat informasi dari klien
b. Memberikan terapi asosiasi bebas
Post-condition : Pelaksanaan terapi
Actor who benefit : Klien dan Terapis
IV.Case Name : Pelaksanaan terapi
Pre-condition : Memilih terapi yang tepat
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Menyiapkan ruangan yang nyaman
b. Mempersilahkan klien duduk di sofa
c. Meminta klien mengatakan semua yang ada dipikirannya
d. Terapis duduk dibelakang klien dengan mengobservasi semua perilaku klien
Post-condition : Controlling
Actor who benefit : Klien dan Terapis
V.Case Name : Controlling
Pre-condition : Pelaksanaan terapi
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Mencatat informasi yang dikeluarkan klien secara berulang-ulang
Post-condition : evaluasi
Actor who benefit : Klien dan Terapis
VI.Case Name : Evaluasi
Pre-condition : Controlling
Actor who initiates : Terapis
Steps : a. Melihat perubahan yang terjadi dengan melihat catatan diri klien
b. Melihat perubahan pada pertemuan berikutnya dan membandingkannya
Post-condition : None
Actor who benefit : Klien dan Terapis
Senin, 18 April 2011
Selasa, 05 April 2011
Pemetaan Bisnis Proses
Kasus I : gangguan kecemasan berbicara di depan umum
Pendekatan
Terapis melakukan pendekatan dengan menanyai latar belakang klien, antara lain menanyakan identitas klien serta kondisi kesehatan klien saat itu, apakah klien dalam keadaan sehat atau tidak serta minat klien dan hobinya.
Menggali informasi subjek
Pertama dilakukan pertanyaan mengapa klien menemui terapis. Jika klien telah mengatakan alasan menemui terapis maka dapat dilakukan pertanyaan terbuka seperti mengapa klien mengalami kecemasan saat berbicara di depan umum, informasi yang diberikan klien akan direkam menggunakan alat perekam serta dilakukan observasi pada perilaku yang diperlihatkan subjek ketika menjelaskan tentang gangguannya kepada terapis.
Memilih terapi yang tepat
Berdasarkana informasi yang diberikan klien tentang kecemasannya saat berbicara didepan umum, maka klien dapat diberikan terapi relaksasi.
Pelaksanaan terapi
Terapis membutuhkan ruangan yang nyaman, terapi ini membutuhkan peralatan yang sofistikated dan tidak begitu mahal. Terapi ini hanya membutuhkan latihan seperti mengatur pernafasan, langkah ini agak rumit dijalankan namun terapi ini membantu menyehatkan kesehatan badan, perlahan-lahan dan langkah demi langkah untuk mencapai tahap relaksasi yang mempunyai kekuatan untuk melawan kecemasan itu sendiri.
Controlling
Dilakukan saat terapi relaksasi diberikan. Terapis melihat tahap-tahap kecemasan yang ditunjukan klien saat menghadapkan klien pada tempat keramaian. Terapis juga harus melihat kemampuan klien dalam mengatasi kecemasan pada level ke berapa, jika klien menjadi tidak terkontrol terapis harus mampu memberikan relaksasi dan melanjutkannya pada tahap berikutnya sampai klien merasa tidak cemas lagi.
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat tahap pemberian terapi berakhir, terapis harus melihat perubahan yang terjadi pada klien dengan catatan-catatan yang telah dilakukan oleh terapis. Jika perubahan belum terjadi maka terapis dapat memberikan terapi lain.
Kasus II : phobia karet gelang
Pendekatan
Seorang terapis melakukan rapport yang bertujuan untuk mencairkan suasana agar klien dapat merasa lebih santai dan nyaman untuk menceritakan masalahnya kepada terapis. Hal ini disertai juga dengan menanyakan identitas subjek, keadaan fisik subjek saat itu.
Menggali informasi subjek
Setelah klien merasa santai dengan keberadaan terapis, lalu dimulailah penggalian masalah dalam diri klien. Terapis juga dapat memberikan pertanyaan terbuka seperti mengapa subjek phobia saat dihadapkan pada karet gelang. Informasi yang diberikan subjek akan direkam menggunakan alat perekam, serta dilihat perilakunya guna observasi yang dilakukan terapis.
Memilih terapi yang tepat
Berdasarkan informasi yang diberikan klien tentang ketakutannya saat diberi karet gelang, maka klien dapat diberikan terapi floading.
Pelaksanaan terapi
Terapis memutuhkan ruangan yang nyaman. Klien diminta untuk duduk diruangan yang sama dengan terapis dengan dihadirkan objek yang ditakuti, dalam kasus ini yaitu karet untuk periode waktu yang cukup lama. Saat itu juga kecemasan subjek akan langsung meningkat dan menurun secara perlahan sampai akhirnya klien bisa merasa tenang untuk menghadapi objek yang dia takuti.
Controlling
Dilakukan saat terapi diberikan, terapis melihat tahap-tahap kecemasan pada diri klien saat dihadapkan pada objek yang dia takuti. Karena terapi dilakukan pada periode waktu yang lama, jika klien menunjukan reaksi kepanikan yang berlebihan maka terapis akan menyingkirkan objek yang ditakuti klien untuk sementara, membiarkan subjek tenang dulu kemudian akan menghadapkan klien pada objek yang sama. Hal ini dilakukan agar klien dapat imun terhadap objek yang ditakuti
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat tahap pemberian terapi berakhir, terapis harus melihat perubahan yang terjadi pada klien dengan catatan-catatan yang telah dilakukan oleh terapis. Jika perubahan belum terjadi maka terapis dapat memberikan terapi lain.
Kasus III : stress dalam pembuatan tugas akhir
Pendekatan
Seorang terapis melakukan rapport yang bertujuan untuk mencairkan suasana agar klien dapat merasa lebih santai dan nyaman untuk menceritakan masalahnya kepada terapis. Hal ini dilakukan agar terapis dan klin dapat membangun kedekatan sehingga klien mau untuk bercerita kepada terapis mengenai keluhannya. Hal ini disertai juga dengan menanyakan identitas subjek, keadaan fisik subjek saat itu.
Menggali informasi subjek
bagian ini adalah tahap kegiatan untuk mengumpulkan informasi seputar diri klien dan permasalahan yang dialami oleh klien. Dalam kasus ini klien mengalami stress saat pembuatan tugas akhir, hal ini diketahui dari informasi yang tekah diberikan oleh klien. Terapi juga dapat memberikan pertanyaan terbuka seputar dengan keluhan klien, informasi yang diberikan klien akan direkam menggunakan alat perekam serta diobservasi perilakunya oleh terapis.
Memilih terapi yang tepat
Berdasarkan informasi yang telah diberikan oleh klien mengenai keluhannya, terapi dapat memberikan terapi asosiasi bebas.
Pelaksaan terapi
Terapi membutuhkan ruangan yang nyaman dan tenang. Pada pelaksanaan terapi ini terapis mempersilahkan subjeknya untuk berbaring diatas sofa lalu klien diminta untuk mengatakan dan menceritakan apa yang ada di pikiran klien, sementara itu terapis duduk di belakang klien dan mengobservasi berdasarkan cerita yang klien berikan
Controlling
Dilakukan saat tahap terapi berlangsung, terapis mencatat informasi-informasi yang diberikan oleh klien. Terapi juga mencatat informasi apa yang diberikan subjek secara berulang-ulang
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat tahap pemberian terapi berakhir, terapis harus melihat perubahan yang terjadi pada klien dengan catatan-catatan yang telah dilakukan oleh terapis. Umumnya perubahan terjadi pada pertemuan-pertemuan berikutnya, jika perubahan belum terjadi maka terapis dapat memberikan terapi lain.
Pendekatan
Terapis melakukan pendekatan dengan menanyai latar belakang klien, antara lain menanyakan identitas klien serta kondisi kesehatan klien saat itu, apakah klien dalam keadaan sehat atau tidak serta minat klien dan hobinya.
Menggali informasi subjek
Pertama dilakukan pertanyaan mengapa klien menemui terapis. Jika klien telah mengatakan alasan menemui terapis maka dapat dilakukan pertanyaan terbuka seperti mengapa klien mengalami kecemasan saat berbicara di depan umum, informasi yang diberikan klien akan direkam menggunakan alat perekam serta dilakukan observasi pada perilaku yang diperlihatkan subjek ketika menjelaskan tentang gangguannya kepada terapis.
Memilih terapi yang tepat
Berdasarkana informasi yang diberikan klien tentang kecemasannya saat berbicara didepan umum, maka klien dapat diberikan terapi relaksasi.
Pelaksanaan terapi
Terapis membutuhkan ruangan yang nyaman, terapi ini membutuhkan peralatan yang sofistikated dan tidak begitu mahal. Terapi ini hanya membutuhkan latihan seperti mengatur pernafasan, langkah ini agak rumit dijalankan namun terapi ini membantu menyehatkan kesehatan badan, perlahan-lahan dan langkah demi langkah untuk mencapai tahap relaksasi yang mempunyai kekuatan untuk melawan kecemasan itu sendiri.
Controlling
Dilakukan saat terapi relaksasi diberikan. Terapis melihat tahap-tahap kecemasan yang ditunjukan klien saat menghadapkan klien pada tempat keramaian. Terapis juga harus melihat kemampuan klien dalam mengatasi kecemasan pada level ke berapa, jika klien menjadi tidak terkontrol terapis harus mampu memberikan relaksasi dan melanjutkannya pada tahap berikutnya sampai klien merasa tidak cemas lagi.
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat tahap pemberian terapi berakhir, terapis harus melihat perubahan yang terjadi pada klien dengan catatan-catatan yang telah dilakukan oleh terapis. Jika perubahan belum terjadi maka terapis dapat memberikan terapi lain.
Kasus II : phobia karet gelang
Pendekatan
Seorang terapis melakukan rapport yang bertujuan untuk mencairkan suasana agar klien dapat merasa lebih santai dan nyaman untuk menceritakan masalahnya kepada terapis. Hal ini disertai juga dengan menanyakan identitas subjek, keadaan fisik subjek saat itu.
Menggali informasi subjek
Setelah klien merasa santai dengan keberadaan terapis, lalu dimulailah penggalian masalah dalam diri klien. Terapis juga dapat memberikan pertanyaan terbuka seperti mengapa subjek phobia saat dihadapkan pada karet gelang. Informasi yang diberikan subjek akan direkam menggunakan alat perekam, serta dilihat perilakunya guna observasi yang dilakukan terapis.
Memilih terapi yang tepat
Berdasarkan informasi yang diberikan klien tentang ketakutannya saat diberi karet gelang, maka klien dapat diberikan terapi floading.
Pelaksanaan terapi
Terapis memutuhkan ruangan yang nyaman. Klien diminta untuk duduk diruangan yang sama dengan terapis dengan dihadirkan objek yang ditakuti, dalam kasus ini yaitu karet untuk periode waktu yang cukup lama. Saat itu juga kecemasan subjek akan langsung meningkat dan menurun secara perlahan sampai akhirnya klien bisa merasa tenang untuk menghadapi objek yang dia takuti.
Controlling
Dilakukan saat terapi diberikan, terapis melihat tahap-tahap kecemasan pada diri klien saat dihadapkan pada objek yang dia takuti. Karena terapi dilakukan pada periode waktu yang lama, jika klien menunjukan reaksi kepanikan yang berlebihan maka terapis akan menyingkirkan objek yang ditakuti klien untuk sementara, membiarkan subjek tenang dulu kemudian akan menghadapkan klien pada objek yang sama. Hal ini dilakukan agar klien dapat imun terhadap objek yang ditakuti
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat tahap pemberian terapi berakhir, terapis harus melihat perubahan yang terjadi pada klien dengan catatan-catatan yang telah dilakukan oleh terapis. Jika perubahan belum terjadi maka terapis dapat memberikan terapi lain.
Kasus III : stress dalam pembuatan tugas akhir
Pendekatan
Seorang terapis melakukan rapport yang bertujuan untuk mencairkan suasana agar klien dapat merasa lebih santai dan nyaman untuk menceritakan masalahnya kepada terapis. Hal ini dilakukan agar terapis dan klin dapat membangun kedekatan sehingga klien mau untuk bercerita kepada terapis mengenai keluhannya. Hal ini disertai juga dengan menanyakan identitas subjek, keadaan fisik subjek saat itu.
Menggali informasi subjek
bagian ini adalah tahap kegiatan untuk mengumpulkan informasi seputar diri klien dan permasalahan yang dialami oleh klien. Dalam kasus ini klien mengalami stress saat pembuatan tugas akhir, hal ini diketahui dari informasi yang tekah diberikan oleh klien. Terapi juga dapat memberikan pertanyaan terbuka seputar dengan keluhan klien, informasi yang diberikan klien akan direkam menggunakan alat perekam serta diobservasi perilakunya oleh terapis.
Memilih terapi yang tepat
Berdasarkan informasi yang telah diberikan oleh klien mengenai keluhannya, terapi dapat memberikan terapi asosiasi bebas.
Pelaksaan terapi
Terapi membutuhkan ruangan yang nyaman dan tenang. Pada pelaksanaan terapi ini terapis mempersilahkan subjeknya untuk berbaring diatas sofa lalu klien diminta untuk mengatakan dan menceritakan apa yang ada di pikiran klien, sementara itu terapis duduk di belakang klien dan mengobservasi berdasarkan cerita yang klien berikan
Controlling
Dilakukan saat tahap terapi berlangsung, terapis mencatat informasi-informasi yang diberikan oleh klien. Terapi juga mencatat informasi apa yang diberikan subjek secara berulang-ulang
Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat tahap pemberian terapi berakhir, terapis harus melihat perubahan yang terjadi pada klien dengan catatan-catatan yang telah dilakukan oleh terapis. Umumnya perubahan terjadi pada pertemuan-pertemuan berikutnya, jika perubahan belum terjadi maka terapis dapat memberikan terapi lain.
Langganan:
Komentar (Atom)